Meskipun Saika tidak berstatus guru formal, ia memposisikan diri sebagai “guru” dalam konteks tutorial musik dan bahasa. Pengakuan cinta yang bersifat publik dapat menimbulkan ambiguities mengenai batas profesional. Siregar & Utami (2021) menekankan pentingnya pedoman etika digital bagi influencer yang mengadopsi peran edukatif.
| No | Rekomendasi | Penanggung Jawab | |----|-------------|------------------| | 1 | Mengembangkan panduan etika bagi influencer yang berperan sebagai pendidik di platform daring. | Kementerian Komunikasi & Informatika + Asosiasi Influencer | | 2 | Menyisipkan modul literasi emosional dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia (kelas 10‑12). | Kementerian Pendidikan & Kebudayaan | | 3 | Membuat workshop analisis wacana digital bagi mahasiswa jurusan Komunikasi/ Bahasa. | Fakultas Ilmu Humaniora, Universitas XYZ | | 4 | Penelitian lanjutan kualitatif‑kuantitatif pada relasi guru‑murid di platform lain (mis. YouTube, TikTok). | Peneliti independen + Lembaga Riset Media Digital | Meskipun Saika tidak berstatus guru formal, ia memposisikan
| Platform | Content type | Highlights | |----------|--------------|------------| | TikTok | 15‑second video with voice‑over | Uses pastel filter, soft piano, ends with “sone405”. | | Instagram carousel | 4‑panel comic strip | Shows step‑by‑step confession, each panel labeled “sone405”. | | Discord fan‑fic thread | Text story (≈300 words) | Includes character bios, dialogue, and a “sone405” banner at the top. | | Platform | Content type | Highlights |